hutang puasa yang belum terbayar, hutang puasa dibayar fidyah, hutang puasa ramadhan

Masih Punya Hutang Puasa? Bersegeralah untuk Melunasinya. Simak Ketentuan dan Dalilnya

Menurut pandangan mayoritas ulama, hutang puasa Ramadhan harus dibayar atau dilunasi sebelum masuknya bulan Ramadhan berikutnya. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa "Barangsiapa yang berutang puasa Ramadhan, maka hendaklah dia melunasinya sebelum datangnya Ramadhan berikutnya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain dalil tersebut diatas juga diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidak dibenarkan bagi seseorang yang berutang puasa Ramadhan, kecuali setelah ia melunasi utangnya tersebut." (HR. Ibnu Majah).

Dari kedua hadis tersebut, dapat dipahami bahwa melunasi hutang puasa Ramadhan adalah kewajiban yang harus dipenuhi sebelum masuknya bulan Ramadhan berikutnya. Jika tidak dapat melunasinya, maka seseorang diwajibkan membayar fidyah sebagai ganti dari puasa yang tidak dilaksanakan.

Membayar fidyah sebagai pengganti puasa Ramadhan diperbolehkan dalam Islam dalam beberapa situasi yang diakui oleh agama. Beberapa ketentuan orang boleh membayar puasa dengan fidyah antara lain:

Orang yang sakit atau lemah yang tidak mampu berpuasa. Orang yang mengalami penyakit atau kondisi medis tertentu yang menyebabkan ia tidak mampu menahan lapar dan haus selama sehari penuh, atau dapat mengakibatkan kondisinya memburuk jika ia berpuasa, maka ia dapat membayar fidyah sebagai ganti dari puasa yang tidak dilaksanakan.

Orang lanjut usia yang tidak mampu berpuasa. Orang yang sudah lanjut usia dan mengalami kondisi kesehatan yang memburuk, sehingga ia tidak mampu berpuasa selama sehari penuh, maka ia dapat membayar fidyah sebagai ganti dari puasa yang tidak dilaksanakan.

Orang yang dalam masa menyusui atau hamil. Orang yang sedang hamil atau menyusui anak kecil, dan khawatir bahwa berpuasa dapat membahayakan kesehatan dirinya atau anaknya, maka ia dapat membayar fidyah sebagai ganti dari puasa yang tidak dilaksanakan.

Orang yang dalam perjalanan jauh. Orang yang dalam perjalanan jauh atau bekerja di daerah yang membutuhkan tenaga yang besar, dan tidak mampu berpuasa, maka ia dapat membayar fidyah sebagai ganti dari puasa yang tidak dilaksanakan.

Namun, perlu diingat bahwa membayar fidyah hanya sebagai pengganti dari puasa yang tidak dilaksanakan, dan tidak dapat menggantikan keutamaan dan pahala dari berpuasa itu sendiri. Oleh karena itu, jika seseorang memiliki kemampuan untuk berpuasa, diharapkan ia dapat melaksanakan puasa secara penuh dan menghindari membayar fidyah sebagai pengganti dari puasa tersebut.

Dalil yang menunjukkan bahwa membayar fidyah sebagai pengganti puasa Ramadhan diperbolehkan dalam Islam adalah sebagai berikut:

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, "Maka barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) dalam bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Hadis dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, 'Ya Rasulullah, ayahku telah wafat, ia berhutang puasa satu bulan Ramadhan, apakah aku bisa membayarnya?' Rasulullah SAW menjawab, 'Apakah ayahmu berhutang hutang selain dari hutang puasa?' Ia menjawab, 'Tidak.' Lalu Rasulullah SAW bersabda, 'Jika ayahmu berhutang hutang yang lain, kamu membayar hutang itu untuknya?' Ia menjawab, 'Ya.' Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Puasa adalah hutang yang lebih utama bagi Allah, maka bayarlah hutang tersebut untuknya.'"

Dari dua dalil di atas, dapat dipahami bahwa membayar fidyah sebagai pengganti puasa Ramadhan diperbolehkan dalam Islam dalam situasi-situasi tertentu, seperti orang yang sakit atau lemah, orang yang lanjut usia, orang yang dalam masa menyusui atau hamil, dan orang yang dalam perjalanan jauh. Namun, tetap diutamakan untuk melaksanakan puasa secara penuh jika memiliki kemampuan untuk melakukannya, dan membayar fidyah hanya sebagai pengganti dari puasa yang tidak dilaksanakan.

Besaran membayar fidyah untuk pengganti satu hari puasa Ramadhan adalah memberikan makanan yang cukup kepada seorang miskin atau orang yang membutuhkan. Menurut mayoritas ulama, besaran makanan yang diberikan setara dengan satu mud (sekitar 600 gram) dari makanan pokok yang biasa dikonsumsi di daerah tersebut, seperti beras, gandum, atau jagung.

Adapun dalil tentang besaran membayar fidyah tersebut adalah hadis dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, "Rasulullah SAW mensyariatkan fidyah berupa makanan untuk orang yang tidak mampu berpuasa, satu mud (sekitar 600 gram) dari makanan pokok yang biasa dikonsumsi oleh penduduk setempat." (HR. Abu Daud)

[ads4]

Jadi, besaran membayar fidyah sebesar satu mud makanan pokok setiap hari yang tidak berpuasa didasarkan pada hadis tersebut. Namun, jika seseorang ingin memberikan makanan yang lebih dari itu, itu diperbolehkan dan akan lebih baik lagi.

Perlu diingat bahwa membayar fidyah hanya sebagai pengganti dari puasa yang tidak dilaksanakan, dan tidak dapat menggantikan keutamaan dan pahala dari berpuasa itu sendiri. Oleh karena itu, jika seseorang memiliki kemampuan untuk berpuasa, diharapkan ia dapat melaksanakan puasa secara penuh dan menghindari membayar fidyah sebagai pengganti dari puasa tersebut.

# Puasa  

Kontributor: Romie Ariesandy
0